
Pesisir Barat,Kharismanusantara – Ketika negara belum juga menghadirkan jembatan yang layak, warga lima pedukuhan di Kecamatan Lemong, Kabupaten Pesisir Barat, memilih tidak tinggal diam. Berbekal semangat gotong royong dan uang hasil iuran, mereka membangun jembatan darurat menggunakan batang pohon kelapa demi mempertahankan akses kehidupan.
Lebih dari 100 warga dari Dusun Talang Jaya, Pekon Bandar Pugung serta Dusun Rindu Alam, Bumi Harta, Bumi Rahayu, dan Sukajadi, Pekon Penengahan, turun langsung memperbaiki Jembatan Way Kubu pada Selasa (30/6/2026). Jembatan sepanjang sekitar 15 meter itu dibangun secara swadaya karena menjadi satu-satunya akses penghubung bagi ribuan aktivitas masyarakat.
Dana sebesar Rp3.540.000 berhasil dikumpulkan dari iuran warga dan sumbangan masyarakat. Uang tersebut digunakan untuk membeli batang kelapa, mengolah papan, dan membiayai proses pembangunan jembatan darurat.
Ironisnya, jembatan yang menjadi urat nadi kehidupan warga itu setiap hari dilalui anak-anak menuju sekolah, mulai dari tingkat TK hingga SMA. Jalur yang sama juga menjadi akses utama petani mengangkut hasil panen. Meski mengetahui risikonya, warga tidak memiliki pilihan lain.
Tokoh masyarakat, Ikrom, menegaskan bahwa upaya swadaya ini bukanlah solusi permanen.
“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin dengan kemampuan yang kami miliki. Tapi ini bukan solusi jangka panjang. Jembatan ini menyangkut keselamatan banyak orang. Kami berharap pemerintah segera turun tangan dan memberikan perhatian serius,” katanya.
Hal senada disampaikan tokoh pemuda Endah Pratama. Menurutnya, gotong royong yang dilakukan warga adalah bentuk kepedulian, bukan pengganti tanggung jawab pemerintah.
“Kami turun langsung, kami iuran, kami bangun bersama. Tapi kami tidak ingin anak-anak kami terus mempertaruhkan keselamatan di jembatan darurat. Kami berharap pemerintah benar-benar hadir dengan pembangunan yang nyata,” ujarnya.
Kondisi Jembatan Way Kubu menjadi gambaran bahwa masih terdapat kebutuhan infrastruktur dasar yang belum terpenuhi di sejumlah daerah. Di tengah keterbatasan, masyarakat membuktikan bahwa semangat gotong royong tetap hidup.
Namun, pembangunan jembatan permanen tetap menjadi kewenangan pemerintah demi menjamin keselamatan dan kelancaran aktivitas masyarakat.
Kini harapan warga sederhana: hadirnya jembatan permanen yang aman dan layak. Sebab, jika masyarakat dengan kemampuan terbatas mampu mengumpulkan jutaan rupiah untuk menjaga akses kehidupan, maka publik menanti langkah nyata pemerintah untuk menghadirkan solusi yang berkelanjutan.(Raden Majisin/Endah Pratama)




