55 Hari Pasca-Banjir: Nyakli Maop Kritik Pemerintah Lamban, Sebut Masyarakat Aceh Terusik di Negeri Sendiri

ACEH | Kharisma Nusantara.com – Sudah 55 hari berlalu sejak banjir bandang melanda Aceh, namun duka masyarakat belum juga usai. Hingga saat ini, sebagian warga dilaporkan masih bertahan di bawah tenda pengungsian. Kondisi ini memicu kritik keras dari aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) sekaligus penggiat media sosial, Razali Alias atau yang akrab disapa Nyakli Maop.
Razali mengungkapkan bahwa lambannya penanganan pemerintah membuat masyarakat merasa terasing dan tidak dipedulikan di tanah kelahirannya sendiri. Dengan nada getir, ia menggambarkan situasi saat ini sebagai bentuk pengkhianatan terhadap kepercayaan rakyat.
“Akulah Agam dan akulah Inong pribumi yang terusik di negeri sendiri. Janji pemerintah tidak ditepati,” tegas Razali dalam pernyataan tertulisnya.
Ia menambahkan bahwa narasi yang diberikan oknum penguasa saat ini hanyalah harapan palsu yang menyesakkan. “Masyarakat Aceh saat ini bagaikan menghisap udara tipu muslihat dari mulut kantor oknum penguasa, dicemari janji-janji yang tak pasti,” lanjutnya.
Singgung Komitmen MoU Helsinki
Tak hanya soal teknis bantuan banjir, Razali juga menyoroti masalah fundamental terkait hubungan pusat dan daerah.
Ia menilai ketidakseriusan pemerintah dalam menangani dampak bencana di Aceh merupakan cerminan dari ketidak ikhlasan pemerintah pusat dalam menjalankan butir-butir perdamaian MoU Helsinki.
Menurutnya, perdamaian yang disepakati antara Pemerintah RI dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) seharusnya membawa kesejahteraan nyata, bukan sekadar formalitas politik yang hampir 25 tahun berlalu belum lagi janji janji sebelum nya saat Indonesia baru lahir
Mereka hanya bermain sandiwara murahan. Tidak ada keseriusan untuk membantu masyarakat Aceh. Harapan warga untuk kembali ke kehidupan normal semakin tipis karena lambannya aksi nyata di lapangan,” pungkas Razali.
(H.sujayadi- Redaksi)

